
SAMARINDA – Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda/BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur menggelar Ekspose Seminar Hasil Riset Pengembangan Permodelan Jalur Evakuasi dan Alternatif Rute Transportasi Saat Banjir dan Longsor Menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) di Provinsi Kalimantan Timur, Selasa (8/9/2026), di Ruang Auditorium Syahrial Setia Lantai 2 Kantor Balitbangda Provinsi Kalimantan Timur.
Kegiatan seminar hasil ini merupakan bagian dari pelaksanaan riset tahun anggaran 2026 pada subkegiatan Penelitian dan Pengembangan Pekerjaan Umum. Riset tersebut difokuskan pada pengembangan model spasial jalur evakuasi dan alternatif rute transportasi yang dapat mendukung penanganan kondisi darurat akibat bencana banjir dan tanah longsor di Kalimantan Timur.
Acara dibuka oleh sambutan Kepala Brida Kaltim yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Hj. Dayang Yusna Fauziah, SE, MAP. sekaligus membuka acara. Ekspose tersebut dihadiri dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari unsur Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Akademisi, Asosiasi Profesi, serta Tim Pelaksana Riset. Unsur pemerintah pusat yang turut diundang berasal dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Kalimantan Timur, Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV Samarinda, serta Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas II Balikpapan.
Dalam sesi utama, hasil kegiatan riset dipaparkan oleh Tim Pelaksana Riset, dengan Dr. Ari Sasmoko Adi, S.T., M.T., CIQnR., Periset Balitbangda Kaltim, bertindak sebagai moderator. Sementara itu, pembahasan dan masukan terhadap hasil riset melibatkan narasumber dari Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Timur serta Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Provinsi Kalimantan Timur.
Riset ini dilatarbelakangi oleh tingginya risiko bencana banjir dan longsor yang berpotensi mengganggu konektivitas jaringan transportasi di Kalimantan Timur. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jalur transportasi utama dapat mengalami gangguan atau bahkan terputus saat terjadi bencana, sehingga diperlukan pemodelan jalur evakuasi yang aman serta alternatif rute yang tetap dapat diakses dalam kondisi darurat.
Wilayah kajian dalam penelitian mencakup koridor penghubung Samarinda–Bontang, Samarinda–Balikpapan, dan Samarinda–Kutai Kartanegara. Melalui pendekatan Sistem Informasi Geografis, penelitian diarahkan untuk mengintegrasikan data kerawanan bencana, kondisi jaringan jalan, fasilitas publik, serta titik-titik evakuasi guna menghasilkan model jalur evakuasi dan rute transportasi alternatif yang adaptif terhadap kondisi bencana.
Secara khusus, riset ini bertujuan mengidentifikasi dan memetakan tingkat kerawanan banjir dan tanah longsor, menganalisis tingkat kerentanan jaringan jalan, mengembangkan model jalur evakuasi yang aman dan optimal, serta menentukan rute transportasi alternatif yang efektif ketika jalur utama mengalami gangguan akibat bencana.
Dalam pelaksanaannya, tim peneliti menggunakan sejumlah tahapan, mulai dari overlay peta jaringan jalan dengan peta kebencanaan, ground checking pada lokasi-lokasi kritis, hingga pengujian skenario jalur alternatif menggunakan teknologi GPS. Analisis juga dilakukan melalui pendekatan spasial, termasuk analisis kelerengan, variabel dan parameter SIG, serta pengembangan strategi jalur evakuasi regional.
Hasil yang diharapkan dari riset ini antara lain berupa peta kerawanan multibahaya, peta rute evakuasi dinamis yang memuat jalur utama dan cadangan, serta konsep Decision Support System (DSS) sebagai bahan pendukung dalam pengambilan keputusan, khususnya terkait penanganan transportasi dan mobilisasi saat terjadi bencana.
Seminar hasil ini juga menjadi forum diskusi dan penyempurnaan hasil penelitian melalui masukan dari perangkat daerah, instansi pemerintah, akademisi, organisasi profesi, serta para pemangku kepentingan terkait. Peserta yang diundang berasal dari unsur pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, lembaga profesi, serta tim pelaksana riset.
Melalui kegiatan ini, diharapkan hasil riset dapat menjadi salah satu bahan ilmiah dan rekomendasi bagi pemerintah daerah serta instansi terkait dalam memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Model spasial yang dihasilkan diharapkan dapat terus diperbarui sesuai perkembangan data dan kondisi lapangan, sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat dalam menghadapi gangguan transportasi akibat banjir maupun longsor di Kalimantan Timur.